Saturday, 14 March 2015

Tips Mengoptimalkan Ibadah Pada Sepertiga Malam



Tips mengoptimalkan ibadah pada sepertiga malam :
  1. Menjaga niat untuk bangun pada sepertiga malam;
  2. Membuat jadwal pribadi untuk bangun setiap malam;
  3. Tidur pada awal malam agar terhindar dari kepulasan tidur;
  4. Mengisi sepertiga malam dengan shalat dan dzikir;
  5. Memohon kepada Allah Ta’ala agar diberi kemampuan untuk   mengerjakan shalat malam;

SEMAKIN MULIA DENGAN AL QUR'AN

SEMAKIN MULIA DENGAN AL QUR'AN

Orang akan semakin mulia dengan Al Quran. Baik ketika ia membacanya, baik ia menghafalnya, baik ia memahaminya, atau mengamalkannya.

✔Dalam hadits disebutkan,

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳَﺮْﻓَﻊُ ﺑِﻬَﺬَﺍ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﺃَﻗْﻮَﺍﻣًﺎ ﻭَﻳَﻀَﻊُ ﺑِﻪِﺁﺧَﺮِﻳﻦَ

“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat seseorang dengan kitab ini (Al Qur’an) dan merendahkan yang lain dengan kitab ini. ” (HR. Muslim no. 817, dari ‘Umar bin Al Khattab)
 
✔Ini buktinya,

ﺃَﻥَّ ﻧَﺎﻓِﻊَ ﺑْﻦَ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟْﺤَﺎﺭِﺙِ ﻟَﻘِﻰَ ﻋُﻤَﺮَ ﺑِﻌُﺴْﻔَﺎﻥَ ﻭَﻛَﺎﻥَﻋُﻤَﺮُ ﻳَﺴْﺘَﻌْﻤِﻠُﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﻜَّﺔَ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻣَﻦِ ﺍﺳْﺘَﻌْﻤَﻠْﺖَﻋَﻠَﻰ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻮَﺍﺩِﻯ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﺑْﻦَ ﺃَﺑْﺰَﻯ . ﻗَﺎﻝَ ﻭَﻣَﻦِ ﺍﺑْﻦُﺃَﺑْﺰَﻯ ﻗَﺎﻝَ ﻣَﻮْﻟًﻰ ﻣِﻦْ ﻣَﻮَﺍﻟِﻴﻨَﺎ . ﻗَﺎﻝَ ﻓَﺎﺳْﺘَﺨْﻠَﻔْﺖَﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻣَﻮْﻟًﻰ ﻗَﺎﻝَ ﺇِﻧَّﻪُ ﻗَﺎﺭِﺉٌ ﻟِﻜِﺘَﺎﺏِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّﻭَﺇِﻧَّﻪُ ﻋَﺎﻟِﻢٌ ﺑِﺎﻟْﻔَﺮَﺍﺋِﺾِ . ﻗَﺎﻝَ ﻋُﻤَﺮُ ﺃَﻣَﺎ ﺇِﻥَّ ﻧَﺒِﻴَّﻜُﻢْ -ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﻗَﺪْ ﻗَﺎﻝَ‏« ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳَﺮْﻓَﻊُ ﺑِﻬَﺬَﺍ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﺃَﻗْﻮَﺍﻣًﺎ ﻭَﻳَﻀَﻊُ ﺑِﻪِﺁﺧَﺮِﻳﻦَ ‏» .

Nafi’ bin ‘Abdul Harits pernah bertemu ‘Umar di ‘Usfan dan ketika itu ‘Umar menugaskan Nafi’ untuk mengurus kota Makkah. Umar pun bertanya, “Kalau begitu siapa yang mengurus penduduk Al Wadi?” “Ibnu Abza”, jawab Nafi’. Umar balik bertanya, “Siapa Ibnu Abza”. Ketika itu dijawab, “Dia adalah di antara bekas budak kami.” Umar terheran dan berkata, “Kok bisa yang engkau tugaskan adalah bekas budak?” Nafi’ menjawab, “Ia itu paham Al Qur’an dan memahami ilmu faroidh (waris).” Umar berkata, “Sesungguhnya nabi kalian itu bersabda, “Sesungguhnya Allah mengangkat derajatseseorang dengan kitab ini (Al Qur’an) dan merendahkan yang lain dengan kitab ini. “ (HR.Muslim no. 817)

✔ Silakan buktikan, jika kita ingin menjadi hamba yang mulia. Walau miskin, cacat, lemah, pasti akan semakin mulia dengan Al Quran
 
rumaysho.com

•√ Wallahu Ta'ala A'lam
•√ Semoga Bermanfaat
•√ Silakan di sebarkan

طلب العلم C0046DA92                       
[ Ikhwan : 08125330488 ]
[ Akhwat : 081257735988 ]
[ Pin BBG : 7FBD331D ]
[ FB : Mansyur Yusuf ]

Thursday, 5 March 2015

MAKNA GHIBAH DAN BATASANNYA


Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW, pernah bertanya . ”Tahukah kalian apakah ghibah itu?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Nabi SAW kemudian bersabda, “Ghibah adalah kalian membicarakan saudaramu mengenai sesuatu yang tidak dia sukai.” Seseorang bertanya , “Ya Rasulullah, bagaimanakah apabila orang yang dibicarakan itu sesuai dengan yang saya ucapkan? “ Beliau menjawab , “ Apabila benar apa yang kamu bicarakan itu ada padanya, berarti kamu telah menggunjingnya ; dan apabila yang kamu bicarakan itu tidak ada pada padanya, berarti kamu telah membuat-buat kebohongan terhadapnya.” (HR. Muslim)


Adapun batasan ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang tidak disenangi oleh orang lain apabila yang bersangkutan sampai mendengarnya, baik itu kekurangan pada fisik, keturunan, akhlak, perbuatan, perkataan, masalah agama, dunia, sampai mengenai pakaian, rumah, dan kendaraannya. Adapun contoh ghibah yang berkaitan dengan fisiknya adalah tinggi, hitam, dan semua hal yang tidak disukainya. Adapun contoh ghibah yang berkaitan dengan akhlak adalah menyebutkan sifat – sifat pada dirinya, semisal pengecut, penakut, dan sebagainya.


Sejatinya, ghibah itu tidak terbatas pada ucapan saja, tetapi juga pada isyarat badan, teka – teki, bisikan, tulisan, gerak, dan segala sesuatu yang dipahami sebagai upaya untuk membicarakannya. Semua itu sesungguhnya termasuk ke dalam kriteria ghibah yang diharamkan. Ada sebuah contoh yang dikatakan oleh ‘ Aisyah, dia menggatakan, “Seseorang perempuan datang menemui kami, ketika dia hendak pulang aku memberi isyarat dengan tanganku bahwasanya dia pendek.”Rasulullah SAW pun bersabda, “Engkau telah menggunjingnya.” (Mustakhlash Fi Tazkiyyatil Anfus, Sa’id Hawwa)



Panduan Amal
Tips menghindari prasangka buruk dan ghibah
  1. Senantiasa mengintropeksi diri.
  2. Berusaha untuk tidak prasangka buruk (su’uzhan) dan selalu berprasangka baik (husnuzhan).
  3. Jangan mencari-cari kesalahan orang lain.
  4. Bicara seperlunya yang bermutu.
  5. Takut terhadap azab Allah bagi orang-orang yang berprasangka buruk dan menggunjing.
  6. Berpikir positif dengan cara berpikir, menduga, dan hanya mengharapkan yang baik dari suatu keadaan atau tentang seseorang.
  7. Memupuk sikap percaya diri dan membangun sikap optimisme.
  8. Berdo’a agar dijauhkan dari beragam sifat tercela, termasuk prasangka 
    buruk dan menggunjing
Sumber : syaamil quran 


Monday, 2 March 2015

BAHAYA SOMBONG

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Mutiara Nasehat Salafush Shalih

ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻘﻴﻢ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ
“ﺇﺫﺍ ﻓﺘﺢ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻚ ﻓﻲ ﺑﺎﺏ ﻗﻴﺎﻡ ﺍﻟﻠﻴﻞ ،ﻓﻼ ﺗﻨﻈﺮ ﻟﻠﻨﺎﺋﻤﻴﻦ ﻧﻈﺮﺓ ﺍﺯﺩﺭﺍﺀ …
ﻭﺇﺫﺍ ﻓﺘﺢ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻚ ﻓﻲ ﺑﺎﺏ ﺍﻟﺼﻴﺎﻡ ، ﻓﻼ ﺗﻨﻈﺮ ﻟﻠﻤﻔﻄﺮﻳﻦ ﻧﻈﺮﺓ
ﺍﺯﺩﺭﺍﺀ …
ﻭﺇﺫﺍ ﻓﺘﺢ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻚ ﻓﻲ ﺑﺎﺏ ﺍﻟﺠﻬﺎﺩ ، ﻓﻼ ﺗﻨﻈﺮ ﻟﻠﻘﺎﻋﺪﻳﻦ ﻧﻈﺮﺓ
ﺍﺯﺩﺭﺍﺀ …
ﻓﺮﺏ ﻧﺎﺋﻢ ﻭﻣﻔﻄﺮ ﻭﻗﺎﻋﺪ ﺃﻗﺮﺏ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻨﻚ.
ﺛﻢ ﻗﺎﻝ : “ﻭﺇﻧﻚ ﺃﻥ ﺗﺒﻴﺖ ﻧﺎﺋﻤﺎً ﻭﺗﺼﺒﺢ ﻧﺎﺩﻣﺎً ﺧﻴﺮ ﻣﻦ ﺃﻥ ﺗﺒﻴﺖ
ﻗﺎﺋﻤﺎً ﻭﺗُﺼﺒﺢ ﻣﻌﺠﺒﺎً ، ﻓﺈﻥَّ ﺍﻟﻤُﻌﺠَﺐ ﻻ ﻳﺼﻌﺪ ﻟﻪ ﻋﻤﻞ.”
ﻣﺪﺍﺭﺝ ﺍﻟﺴﺎﻟﻜﻴﻦ ‏( ١٧٧/١ ‏)
 
Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah, “Jika Allah membukakan untukmu pintu sholat malam, janganlah kau memandang orang yang tidur dengan pandangan merendahkan. Jika Allah membukakan untukmu pintu puasa, jangan kau memandang orang yang tak berpuasa dengan pandangan merendahkan. Jika Allah membukakan untukmu pintu jihad, jangan kau memandang orang yang tak berjihad dengan pandangan merendahkan. Bisa saja orang yang tidur, yang tak berpuasa dan yang tak berjihad lebih dekat kepada Allah ketimbang dirimu.”Kemudian beliau melanjutkan, “Engkau berpagi hari bangun dari tidur lalu menyesal lebih baik dari pada berpagi hari dalam keadaan terjaga lalu berbangga. Karena orang yang sombong, amalannya tidak akan naik ke sisi Allah.” (Dinukil dari Kitab Madarijus Salikin:1/177)

•√ Wallahu Ta'ala A'lam
•√ Semoga Bermanfaat
•√ Silakan di sebarkan

طلب العلم C0046DA92
[ Ikhwan : 08125330488 ]
[ Akhwat : 081257735988 ]

HARAMNYA TAJASSUS

Alhamdulillah segala puji hanya milik Allah Ta’ala, salawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan pengikutnya yang teguh menjalankan sunah-sunahnya. Islam merupakan agama yang sempurna dan sangat menghormati hak dalam bersaudara antara sesama manusia. Karena itu, Islam sangat menjamin hak-hak setiap individu maupun masyarakat dan melarang perbuatan yang menyerempet kepada hak-hak pribadi maupun aib dari setiap manusia. Salah satu perbuatan atau sikap yang buruk adalah Tajassus.

Pengertian Tajassus
Tajassus kalau dalam istilah kita dinamakan dengan memata-matai (spionase) atau mengorek-orek berita. Namun Tajassus yang dimaksud dalam hal ini adalah mencari-cari kesalahan orang lain dengan menyelidikinya atau memata-matai. Sikap tajassus ini termasuk sikap yang dilarang dalam Alquran maupun hadis.
 
Larangan Bersikap Tajassus larangan dari Alquran. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” (Al-Hujurat : 12)
 
Dalam ayat tersebut, Allah Ta’ala melarang kita untuk mencari-cari kesalahan orang lain. Entah itu dengan kita menyelidikinya secara langsung atau dengan bertanya kepada temannya.
 
Tajassus biasanya merupakan kelanjutan dari prasangka buruk sebagaimana yang Allah Ta’ala larang dalam beberapa kalimat sebelum pelarangan sikap tajassus.

Larangan dari hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِيَّا كُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ وَلاَ تَحَسَّسُوا وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَتَدَابَرُوا وَلاَتَبَاغَضُوا وَكُوْنُواعِبَادَاللَّهِ إحْوَانًا

“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari hadis no. 6064 dan Muslim hadis no. 2563]

Perkataan Ulama Salaf tentang Tajassus Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata,

(( ولا تظنَّنَّ بكلمة خرجت من أخيك المؤمن إلاَّ خيراً، وأنت تجد لها في الخير مَحملاً ))

“Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang mukmin kecuali dengan persangkaan yang baik. Dan hendaknya engkau selalu membawa perkataannya itu kepada prasangka-prasangka yang baik."
 
Syekh Abu Bakar bin Jabir al-Jazairi rahimahullah berkata ketika menafsirkan ayat ke 12 dari surat Al-Hujurat, “Haram mencari kesalahan dan menyelidiki aib-aib kaum muslimin dan menyebarkannya serta menelitinya”.
 
Syekh As-Sa’di rahimahullah berkata, “Janganlah kalian meneliti aurat (aib) kaum muslimin dan janganlah kalian menyelidikinya.”
 
Murid dari Syaikh as-Sa’di yaitu Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah juga berkata, “Tajassus yaitu mencari aib-aib orang lain atau menyelidiki kejelekan saudaranya”.
 
Dr. Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh juga menuturkan ketika menafsirkan ayat di atas sebagai berikut, “Maksudnya adalah atas sebagian kalian. Kata ‘tajassus’ lebih sering digunakan untuk suatu kejahatan. Sedangkan kata ‘tahassus’ seringkali digunakan untuk hal yang baik. Sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala, yang menceritakan tentang nabi Ya’qub ‘alaihi ssalam, di mana Dia berfirman dalam surat Yusuf ayat 87.

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ

(Ya’qub berkata) “Wahai anak-anakku, pergilah kalian, carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya…” (QS. Yusuf: 87)

Namun terkadang kedua kata tersebut digunakan untuk menunjukkan hal yang buruk, sebagaimana ditegaskan dalam hadis sahih di atas.”
 
Imam Abu Hatim al-Busti rahimahullah berkata, “tajassus adalah cabang dari kemunafikan, sebagaimana sebaliknya prasangka yang baik merupakan cabang dari keimanan. Orang yang berakal akan berprasangka baik kepada saudaranya, dan tidak mau membuatnya sedih dan berduka. Sedangkan orang yang bodoh akan selalu berprasangka buruk kepada saudaranya dan tidak segan-segan berbuat jahat dan membuatnya menderita.”

Nasihat Bagi Yang Suka Mencari Kesalahan Orang Lain
 
Cukuplah buat kita sebuah untaian perkataan seorang imam yaitu Imam Abu Hatim bin Hibban Al-Busthi berkata dalam sebuah kitabnya yang dikutip oleh Syekh Abdul Muhsin bin Hamd al-‘Abbad al-Badr dalam tulisannya sebagai berikut,

”Orang yang berakal wajib mencari keselamatan untuk dirinya dengan meninggalkan perbuatan tajassus dan senantiasa sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri. Sesungguhnya orang yang sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri dan melupakan kejelekan orang lain, maka hatinya akan tenteram dan tidak akan merasa capai. Setiap kali dia melihat kejelekan yang ada pada dirinya, maka dia akan merasa hina takkala melihat kejelekan yang serupa ada pada saudaranya. Sementara orang yang senantiasa sibuk memperhatikan kejelekan orang lain dan melupakan kejelekannya sendiri, maka hatinya akan buta, badannya akan merasa letih, dan akan sulit baginya meninggalkan kejelekan dirinya.”


Semoga kita senantiasa dimudahkan oleh Allah dalam berakhlak karimah dan menjauhi sifat-sifat buruk dan sikap  yang merugikan diri kita sendiri. Amiin.

Artikel Muslim.Or.Id

Silahkan disebar kiriman ini, semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyyah. Jazakumulloh khair

Sunday, 1 March 2015

MELATIH SI BUAH HATI AGAR TERBIASA SHOLAT

Karekteristik seorang anak, tak akan pernah jauh dari kebiasaan dan perilaku sang Ibu. Jika orangtuanya tak peduli pada aturan Allah dalam hal Sholat, maka tak menutup kemungkinan anak pun akan meneliti jalan hidup orangtuanya. Lain halnya jika Hidayah Qolbu menghampiri sang anak yang telah banyak bergaul dengan teman – temannya yang  sholeh. Kisah para sahabat Nabi: Umar Bin Khotthob, telah menjadi bukti bahwa kebisingan seseorang bisa terurai dengan hidayatul Qur’an yang telah dibaca dari hasil aksi kekerasan terhadap adiknya dengan merampas seberkas pelepah kurma yang bertuliskan ayat Al-Qur’an yang semula ada di tangan adiknya yang lebih dahulu masuk islam. Lalu bagaimana agar anak kita luluh pada ajaran Islam khususnya dalam hal sholat ? Berikut Tipsnya

  1. Ibda binafsik (Memulai dari kepribadian diri orangtua itu sendiri).
  2. Menjadikan rumah sebagai benteng pertahanan Iman dari serangan bebas musuh – musuh Islam dari berbagai penjuru termasuk kotak kecil yang ada didalamnya. (QS. 66:6).
  3. Berilah pemahaman tentang: apa itu sholat, untuk apa kita sholat dan lantas apa konsekuensi bagi orang yang melalaikannya.
  4. Selalu bertanya kepada anak / menantu secara langsung maupun via telp/Hp perihal sholat. Jika anak menjawab “sudah bu… “maka berilah ia pujian sebagaimana pujian Umar bin Khotthob pada anaknya: “Semoga Allah memberkatimu duhai anakku”.
  5. Jangan ada kata bosan dalam hal menyuruh pada anak perihal sholat (QS. 20: 132) terutama ketika anak menginjak usia 7 tahun.
  6. Cari tahu, dengan siapa anak kita bergaul.
  7. Berilah sanksi berupa hukuman jika anak tidak kunjung sholat ketika usianya menginjak 10 tahun.
  8. Jika anak dalam keadaan sakit, lakukan pendekatan intensif dari hati ke hati dengan suara penuh kasih sayang. Katakan kepadanya bahwa sholat tak kenal kata berhenti walau di atas ranjang pesakitan. Tentu sembari menyontohkan tata cara sholat bagi orang yang sedang sakit.
  9. Usahakan bagi sang ayah untuk membiasakan sholat berjama’ah di masjid bersama anak laki – lakinya, sementara untuk sang ibu memimpin sholat berjama’ah di rumah bagi anak – anaknya yang perempuan.
  10. Senantiasa bermunajat kepada Allah agar ditetapkan keluarga tuk menjadi orang – orang yang mendirikan sholat sebagaimana tercantum do’a Nabi Ibrahim dalam (surat Ibrahim 14 ayat 40).

Friday, 27 February 2015

ADAB-ADAB KETIKA DI MASJID

Bismillaahirrahmaanirrahiim

ADAB-ADAB KETIKA DI MASJID
  
Bersegera Menuju Rumah Allah Ta’ala

Bersegera menuju masjid merupakan salah satu ciri dari semangat seorang muslim untuk melakukan ibadah. Jika waktu shalat telah tiba, hendaklah kita bersegera menuju masjid karena di dalamnya terdapat ganjaran yang amat besar, berdasarkan hadits:

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Seandainya manusia mengetahui keutamaan shaf pertama, dan tidaklah mereka bisa mendapatinya kecuali dengan berundi niscaya mereka akan berundi. Dan seandainya mereka mengetahui keutamaan bersegera menuju masjid niscaya mereka akan berlomba-lomba ”( HR. Bukhari no 615 )

Jangan sampai kita menyepelekan dan menunda- nunda waktu untuk sesegera mungkin menuju masjid. Hendaknya selalu bersemangat dalam menghidupkan masjid dan mengisinya dengan amalan-amalan ibadah lainnya. 
muslim.or.id

•√ Wallahu Ta'ala A'lam
•√ Semoga Bermanfaat
•√ Silakan di sebarkan

طلب العلم C0046DA92

[ Ikhwan : 08125330488 ]
[ Akhwat : 081257735988 ]