Tuesday, 24 March 2015

HALAL BUAT KAMI, HARAM BUAT TUAN


Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al-Hanzhali al Marwazi [1] Adalah ulama terkenal di Makkah yang menceritakan riwayat ini.

Suatu ketika, setelah selesai menjalani salah satu ritual haji, ia beristirahat dan tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit. Ia mendengar percakapan mereka,
“Berapa banyak yang datang tahun ini?” tanya malaikat kepada malaikat lainnya.

“Tujuh ratus ribu,” jawab malaikat lainnya.
“Berapa banyak mereka yang ibadah hajinya diterima?”
“Tidak satupun”

Percakapan ini membuat Abdullah gemetar.
“Apa?” ia menangis dalam mimpinya.“Semua orang-orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasir yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?”

Sambil gemetar, ia melanjutkan mendengar cerita kedua malaikat itu.
“Namun ada seseorang, yang meskipun tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni. Berkat dia seluruh haji mereka diterima oleh Allah.”

“Kok bisa”
“Itu Kehendak Allah”
“Siapa orang tersebut?”
“Sa’id bin Muhafah[2], tukang sol sepatu di kota Damsyiq (Damaskus sekarang)”

Mendengar ucapan itu, ulama itu langsung terbangun. Sepulang haji, ia tidak langsung pulang ke rumah, tapi langsung menuju kota Damaskus, Siria.

Sampai disana ia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya.
Hampir semua tukang sol sepatu ditanya, apa memang ada tukang sol sepatu yang namanya Sa’id bin Muhafah.

“Ada, ditepi kota” Jawab salah seorang sol sepatu sambil menunjukkan arahnya. Sesampai disana ulama itu menemukan tukang sepatu yang berpakaian lusuh,

“Benarkah anda bernama Sa’id bin Muhafah?”tanya Ulama itu.
“Betul, siapa tuan?”
“Aku Abdullah bin Mubarak”
Said pun terharu, "bapak adalah ulama terkenal, ada apa mendatangi saya?”

Sejenak Ulama itu kebingungan, dari mana ia memulai pertanyaanya, akhirnya iapun menceritakan perihal mimpinya.

“Saya ingin tahu, adakah sesuatu yang telah anda perbuat, sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur?”
“Wah saya sendiri tidak tahu!”
“Coba ceritakan bagaimana kehidupan anda selama ini.
Maka Sa’id bin Muhafah bercerita.
“Setiap tahun, setiap musim haji, aku selalu mendengar :
Labbaika Allahumma labbaika.
Labbaika la syarika laka labbaika.
Innal hamda wanni’mata laka wal mulka.
laa syarika laka.
Ya Allah, aku datang karena panggilan-Mu.
Tiada sekutu bagi-Mu.
Segala ni’mat dan puji adalah kepunyan-Mu dan kekuasaan-Mu.
Tiada sekutu bagi-Mu.
Setiap kali aku mendengar itu, aku selalu menangis Ya allah aku rindu Mekah, Ya Allah aku rindu melihat ka’bah
Ijinkan aku datang…..
ijinkan aku datang ya Allah..

Oleh karena itu, sejak puluhan tahun yang lalu setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya, sebagai tukang sol sepatu.
Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Akhirnya pada tahun ini, saya punya 350 dirham, cukup untuk saya berhaji.

“Saya sudah siap berhaji”
“Tapi anda batal berangkat haji”
“Benar”
“Apa yang terjadi?”
“Istri saya hamil, dan sering ngidam. Waktu saya hendak berangkat saat itu dia ngidam berat”
“Suami ku, engkau mencium bau masakan yang nikmat ini?
“ya sayang”
“Cobalah kau cari, siapa yang masak sehingga baunya nikmat begini. Mintalah sedikit untukku”

Sayapun mencari sumber bau masakan itu. Ternyata berasal dari gubug yang hampir runtuh.
Disitu ada seorang janda dan enam anaknya.
Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin masakan yang ia masak, meskipun sedikit.
Janda itu diam saja memandang saya, sehingga saya mengulangi perkataan saya.

Akhirnya dengan perlahan ia mengatakan “tidak boleh tuan”
“Dijual berapapun akan saya beli”
“Makanan itu tidak dijual, tuan” katanya sambil
berlinang mata.

Akhirnya saya tanya kenapa?
Sambil menangis, janda itu berkata “daging ini halal untuk kami dan haram untuk tuan” katanya.

Dalam hati saya: Bagaimana ada makanan yang halal untuk dia, tetapi haram untuk saya, padahal kita sama-sama muslim? Karena itu saya mendesaknya lagi “Kenapa?”
“Sudah beberapa hari ini kami tidak makan.
Dirumah tidak ada makanan. Hari ini kami melihat keledai mati, lalu kami ambil sebagian dagingnya untuk dimasak.
“Bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakannya kami akan mati kelaparan. Namun bagi Tuan, daging ini haram".

Mendengar ucapan tersebut spontan saya menangis, lalu saya pulang.
Saya ceritakan kejadian itu pada istriku, diapun menangis, kami akhirnya memasak makanan dan mendatangi rumah janda itu.

“Ini masakan untuk mu”
Uang peruntukan Haji sebesar 350 dirham pun saya berikan pada mereka.”
Pakailah uang ini untuk mu sekeluarga. Gunakan untuk usaha, agar engkau tidak kelaparan lagi”

Ya Allah……… disinilah Hajiku
Ya Allah……… disinilah Mekahku.

Mendengar cerita tersebut Abdullah bin Mubarak tak bisa menahan air mata.

“Kalau begitu engkau memang patut mendapatkannya"...

MasyaAllah...

 
Diambil dari, hilyatul auliya.

Obat Kehidupan


1. Sering Sakit (Silahkan Puasa)
2. Wajah Gelap (Qiyamul Lail (Sholat Tahajud))
3. Hati Sempit (Baca Qur'an)
4. Susah Bahagia (Sholat Tepat Waktu)
5. Emosi Melulu (Wudhu dan Istighfar)
6. Gelisah (Banyak Do’a dan Olah Raga)
7. Tertekan (Baca “Lahaula walaquwwata illa Billah”)
8. Kurang Berkah Rezekinya (Lirik yang Halal aja)
9. Miskin Melulu (Bersedekah)
10. Bingung Cara Berbuat Baik (Share / Bagikan status ini)
*Semoga yang membaca ini semua dosanya diampuni Allah, diangkat derajatnya, dikabulkan segala hajatnya dan mendapatkan pasangan yang sakinah mawaddah warohmah serta anak yang sholih / sholihah dan tutup usia dengan jalan khusnul khotimah. Aamiin..

Saturday, 14 March 2015

Tips Mengoptimalkan Ibadah Pada Sepertiga Malam



Tips mengoptimalkan ibadah pada sepertiga malam :
  1. Menjaga niat untuk bangun pada sepertiga malam;
  2. Membuat jadwal pribadi untuk bangun setiap malam;
  3. Tidur pada awal malam agar terhindar dari kepulasan tidur;
  4. Mengisi sepertiga malam dengan shalat dan dzikir;
  5. Memohon kepada Allah Ta’ala agar diberi kemampuan untuk   mengerjakan shalat malam;

SEMAKIN MULIA DENGAN AL QUR'AN

SEMAKIN MULIA DENGAN AL QUR'AN

Orang akan semakin mulia dengan Al Quran. Baik ketika ia membacanya, baik ia menghafalnya, baik ia memahaminya, atau mengamalkannya.

✔Dalam hadits disebutkan,

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳَﺮْﻓَﻊُ ﺑِﻬَﺬَﺍ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﺃَﻗْﻮَﺍﻣًﺎ ﻭَﻳَﻀَﻊُ ﺑِﻪِﺁﺧَﺮِﻳﻦَ

“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat seseorang dengan kitab ini (Al Qur’an) dan merendahkan yang lain dengan kitab ini. ” (HR. Muslim no. 817, dari ‘Umar bin Al Khattab)
 
✔Ini buktinya,

ﺃَﻥَّ ﻧَﺎﻓِﻊَ ﺑْﻦَ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟْﺤَﺎﺭِﺙِ ﻟَﻘِﻰَ ﻋُﻤَﺮَ ﺑِﻌُﺴْﻔَﺎﻥَ ﻭَﻛَﺎﻥَﻋُﻤَﺮُ ﻳَﺴْﺘَﻌْﻤِﻠُﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﻜَّﺔَ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻣَﻦِ ﺍﺳْﺘَﻌْﻤَﻠْﺖَﻋَﻠَﻰ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻮَﺍﺩِﻯ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﺑْﻦَ ﺃَﺑْﺰَﻯ . ﻗَﺎﻝَ ﻭَﻣَﻦِ ﺍﺑْﻦُﺃَﺑْﺰَﻯ ﻗَﺎﻝَ ﻣَﻮْﻟًﻰ ﻣِﻦْ ﻣَﻮَﺍﻟِﻴﻨَﺎ . ﻗَﺎﻝَ ﻓَﺎﺳْﺘَﺨْﻠَﻔْﺖَﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻣَﻮْﻟًﻰ ﻗَﺎﻝَ ﺇِﻧَّﻪُ ﻗَﺎﺭِﺉٌ ﻟِﻜِﺘَﺎﺏِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّﻭَﺇِﻧَّﻪُ ﻋَﺎﻟِﻢٌ ﺑِﺎﻟْﻔَﺮَﺍﺋِﺾِ . ﻗَﺎﻝَ ﻋُﻤَﺮُ ﺃَﻣَﺎ ﺇِﻥَّ ﻧَﺒِﻴَّﻜُﻢْ -ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﻗَﺪْ ﻗَﺎﻝَ‏« ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳَﺮْﻓَﻊُ ﺑِﻬَﺬَﺍ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﺃَﻗْﻮَﺍﻣًﺎ ﻭَﻳَﻀَﻊُ ﺑِﻪِﺁﺧَﺮِﻳﻦَ ‏» .

Nafi’ bin ‘Abdul Harits pernah bertemu ‘Umar di ‘Usfan dan ketika itu ‘Umar menugaskan Nafi’ untuk mengurus kota Makkah. Umar pun bertanya, “Kalau begitu siapa yang mengurus penduduk Al Wadi?” “Ibnu Abza”, jawab Nafi’. Umar balik bertanya, “Siapa Ibnu Abza”. Ketika itu dijawab, “Dia adalah di antara bekas budak kami.” Umar terheran dan berkata, “Kok bisa yang engkau tugaskan adalah bekas budak?” Nafi’ menjawab, “Ia itu paham Al Qur’an dan memahami ilmu faroidh (waris).” Umar berkata, “Sesungguhnya nabi kalian itu bersabda, “Sesungguhnya Allah mengangkat derajatseseorang dengan kitab ini (Al Qur’an) dan merendahkan yang lain dengan kitab ini. “ (HR.Muslim no. 817)

✔ Silakan buktikan, jika kita ingin menjadi hamba yang mulia. Walau miskin, cacat, lemah, pasti akan semakin mulia dengan Al Quran
 
rumaysho.com

•√ Wallahu Ta'ala A'lam
•√ Semoga Bermanfaat
•√ Silakan di sebarkan

طلب العلم C0046DA92                       
[ Ikhwan : 08125330488 ]
[ Akhwat : 081257735988 ]
[ Pin BBG : 7FBD331D ]
[ FB : Mansyur Yusuf ]

Thursday, 5 March 2015

MAKNA GHIBAH DAN BATASANNYA


Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW, pernah bertanya . ”Tahukah kalian apakah ghibah itu?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Nabi SAW kemudian bersabda, “Ghibah adalah kalian membicarakan saudaramu mengenai sesuatu yang tidak dia sukai.” Seseorang bertanya , “Ya Rasulullah, bagaimanakah apabila orang yang dibicarakan itu sesuai dengan yang saya ucapkan? “ Beliau menjawab , “ Apabila benar apa yang kamu bicarakan itu ada padanya, berarti kamu telah menggunjingnya ; dan apabila yang kamu bicarakan itu tidak ada pada padanya, berarti kamu telah membuat-buat kebohongan terhadapnya.” (HR. Muslim)


Adapun batasan ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang tidak disenangi oleh orang lain apabila yang bersangkutan sampai mendengarnya, baik itu kekurangan pada fisik, keturunan, akhlak, perbuatan, perkataan, masalah agama, dunia, sampai mengenai pakaian, rumah, dan kendaraannya. Adapun contoh ghibah yang berkaitan dengan fisiknya adalah tinggi, hitam, dan semua hal yang tidak disukainya. Adapun contoh ghibah yang berkaitan dengan akhlak adalah menyebutkan sifat – sifat pada dirinya, semisal pengecut, penakut, dan sebagainya.


Sejatinya, ghibah itu tidak terbatas pada ucapan saja, tetapi juga pada isyarat badan, teka – teki, bisikan, tulisan, gerak, dan segala sesuatu yang dipahami sebagai upaya untuk membicarakannya. Semua itu sesungguhnya termasuk ke dalam kriteria ghibah yang diharamkan. Ada sebuah contoh yang dikatakan oleh ‘ Aisyah, dia menggatakan, “Seseorang perempuan datang menemui kami, ketika dia hendak pulang aku memberi isyarat dengan tanganku bahwasanya dia pendek.”Rasulullah SAW pun bersabda, “Engkau telah menggunjingnya.” (Mustakhlash Fi Tazkiyyatil Anfus, Sa’id Hawwa)



Panduan Amal
Tips menghindari prasangka buruk dan ghibah
  1. Senantiasa mengintropeksi diri.
  2. Berusaha untuk tidak prasangka buruk (su’uzhan) dan selalu berprasangka baik (husnuzhan).
  3. Jangan mencari-cari kesalahan orang lain.
  4. Bicara seperlunya yang bermutu.
  5. Takut terhadap azab Allah bagi orang-orang yang berprasangka buruk dan menggunjing.
  6. Berpikir positif dengan cara berpikir, menduga, dan hanya mengharapkan yang baik dari suatu keadaan atau tentang seseorang.
  7. Memupuk sikap percaya diri dan membangun sikap optimisme.
  8. Berdo’a agar dijauhkan dari beragam sifat tercela, termasuk prasangka 
    buruk dan menggunjing
Sumber : syaamil quran 


Monday, 2 March 2015

BAHAYA SOMBONG

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Mutiara Nasehat Salafush Shalih

ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻘﻴﻢ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ
“ﺇﺫﺍ ﻓﺘﺢ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻚ ﻓﻲ ﺑﺎﺏ ﻗﻴﺎﻡ ﺍﻟﻠﻴﻞ ،ﻓﻼ ﺗﻨﻈﺮ ﻟﻠﻨﺎﺋﻤﻴﻦ ﻧﻈﺮﺓ ﺍﺯﺩﺭﺍﺀ …
ﻭﺇﺫﺍ ﻓﺘﺢ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻚ ﻓﻲ ﺑﺎﺏ ﺍﻟﺼﻴﺎﻡ ، ﻓﻼ ﺗﻨﻈﺮ ﻟﻠﻤﻔﻄﺮﻳﻦ ﻧﻈﺮﺓ
ﺍﺯﺩﺭﺍﺀ …
ﻭﺇﺫﺍ ﻓﺘﺢ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻚ ﻓﻲ ﺑﺎﺏ ﺍﻟﺠﻬﺎﺩ ، ﻓﻼ ﺗﻨﻈﺮ ﻟﻠﻘﺎﻋﺪﻳﻦ ﻧﻈﺮﺓ
ﺍﺯﺩﺭﺍﺀ …
ﻓﺮﺏ ﻧﺎﺋﻢ ﻭﻣﻔﻄﺮ ﻭﻗﺎﻋﺪ ﺃﻗﺮﺏ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻨﻚ.
ﺛﻢ ﻗﺎﻝ : “ﻭﺇﻧﻚ ﺃﻥ ﺗﺒﻴﺖ ﻧﺎﺋﻤﺎً ﻭﺗﺼﺒﺢ ﻧﺎﺩﻣﺎً ﺧﻴﺮ ﻣﻦ ﺃﻥ ﺗﺒﻴﺖ
ﻗﺎﺋﻤﺎً ﻭﺗُﺼﺒﺢ ﻣﻌﺠﺒﺎً ، ﻓﺈﻥَّ ﺍﻟﻤُﻌﺠَﺐ ﻻ ﻳﺼﻌﺪ ﻟﻪ ﻋﻤﻞ.”
ﻣﺪﺍﺭﺝ ﺍﻟﺴﺎﻟﻜﻴﻦ ‏( ١٧٧/١ ‏)
 
Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah, “Jika Allah membukakan untukmu pintu sholat malam, janganlah kau memandang orang yang tidur dengan pandangan merendahkan. Jika Allah membukakan untukmu pintu puasa, jangan kau memandang orang yang tak berpuasa dengan pandangan merendahkan. Jika Allah membukakan untukmu pintu jihad, jangan kau memandang orang yang tak berjihad dengan pandangan merendahkan. Bisa saja orang yang tidur, yang tak berpuasa dan yang tak berjihad lebih dekat kepada Allah ketimbang dirimu.”Kemudian beliau melanjutkan, “Engkau berpagi hari bangun dari tidur lalu menyesal lebih baik dari pada berpagi hari dalam keadaan terjaga lalu berbangga. Karena orang yang sombong, amalannya tidak akan naik ke sisi Allah.” (Dinukil dari Kitab Madarijus Salikin:1/177)

•√ Wallahu Ta'ala A'lam
•√ Semoga Bermanfaat
•√ Silakan di sebarkan

طلب العلم C0046DA92
[ Ikhwan : 08125330488 ]
[ Akhwat : 081257735988 ]

HARAMNYA TAJASSUS

Alhamdulillah segala puji hanya milik Allah Ta’ala, salawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan pengikutnya yang teguh menjalankan sunah-sunahnya. Islam merupakan agama yang sempurna dan sangat menghormati hak dalam bersaudara antara sesama manusia. Karena itu, Islam sangat menjamin hak-hak setiap individu maupun masyarakat dan melarang perbuatan yang menyerempet kepada hak-hak pribadi maupun aib dari setiap manusia. Salah satu perbuatan atau sikap yang buruk adalah Tajassus.

Pengertian Tajassus
Tajassus kalau dalam istilah kita dinamakan dengan memata-matai (spionase) atau mengorek-orek berita. Namun Tajassus yang dimaksud dalam hal ini adalah mencari-cari kesalahan orang lain dengan menyelidikinya atau memata-matai. Sikap tajassus ini termasuk sikap yang dilarang dalam Alquran maupun hadis.
 
Larangan Bersikap Tajassus larangan dari Alquran. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” (Al-Hujurat : 12)
 
Dalam ayat tersebut, Allah Ta’ala melarang kita untuk mencari-cari kesalahan orang lain. Entah itu dengan kita menyelidikinya secara langsung atau dengan bertanya kepada temannya.
 
Tajassus biasanya merupakan kelanjutan dari prasangka buruk sebagaimana yang Allah Ta’ala larang dalam beberapa kalimat sebelum pelarangan sikap tajassus.

Larangan dari hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِيَّا كُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ وَلاَ تَحَسَّسُوا وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَتَدَابَرُوا وَلاَتَبَاغَضُوا وَكُوْنُواعِبَادَاللَّهِ إحْوَانًا

“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari hadis no. 6064 dan Muslim hadis no. 2563]

Perkataan Ulama Salaf tentang Tajassus Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata,

(( ولا تظنَّنَّ بكلمة خرجت من أخيك المؤمن إلاَّ خيراً، وأنت تجد لها في الخير مَحملاً ))

“Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang mukmin kecuali dengan persangkaan yang baik. Dan hendaknya engkau selalu membawa perkataannya itu kepada prasangka-prasangka yang baik."
 
Syekh Abu Bakar bin Jabir al-Jazairi rahimahullah berkata ketika menafsirkan ayat ke 12 dari surat Al-Hujurat, “Haram mencari kesalahan dan menyelidiki aib-aib kaum muslimin dan menyebarkannya serta menelitinya”.
 
Syekh As-Sa’di rahimahullah berkata, “Janganlah kalian meneliti aurat (aib) kaum muslimin dan janganlah kalian menyelidikinya.”
 
Murid dari Syaikh as-Sa’di yaitu Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah juga berkata, “Tajassus yaitu mencari aib-aib orang lain atau menyelidiki kejelekan saudaranya”.
 
Dr. Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh juga menuturkan ketika menafsirkan ayat di atas sebagai berikut, “Maksudnya adalah atas sebagian kalian. Kata ‘tajassus’ lebih sering digunakan untuk suatu kejahatan. Sedangkan kata ‘tahassus’ seringkali digunakan untuk hal yang baik. Sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala, yang menceritakan tentang nabi Ya’qub ‘alaihi ssalam, di mana Dia berfirman dalam surat Yusuf ayat 87.

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ

(Ya’qub berkata) “Wahai anak-anakku, pergilah kalian, carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya…” (QS. Yusuf: 87)

Namun terkadang kedua kata tersebut digunakan untuk menunjukkan hal yang buruk, sebagaimana ditegaskan dalam hadis sahih di atas.”
 
Imam Abu Hatim al-Busti rahimahullah berkata, “tajassus adalah cabang dari kemunafikan, sebagaimana sebaliknya prasangka yang baik merupakan cabang dari keimanan. Orang yang berakal akan berprasangka baik kepada saudaranya, dan tidak mau membuatnya sedih dan berduka. Sedangkan orang yang bodoh akan selalu berprasangka buruk kepada saudaranya dan tidak segan-segan berbuat jahat dan membuatnya menderita.”

Nasihat Bagi Yang Suka Mencari Kesalahan Orang Lain
 
Cukuplah buat kita sebuah untaian perkataan seorang imam yaitu Imam Abu Hatim bin Hibban Al-Busthi berkata dalam sebuah kitabnya yang dikutip oleh Syekh Abdul Muhsin bin Hamd al-‘Abbad al-Badr dalam tulisannya sebagai berikut,

”Orang yang berakal wajib mencari keselamatan untuk dirinya dengan meninggalkan perbuatan tajassus dan senantiasa sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri. Sesungguhnya orang yang sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri dan melupakan kejelekan orang lain, maka hatinya akan tenteram dan tidak akan merasa capai. Setiap kali dia melihat kejelekan yang ada pada dirinya, maka dia akan merasa hina takkala melihat kejelekan yang serupa ada pada saudaranya. Sementara orang yang senantiasa sibuk memperhatikan kejelekan orang lain dan melupakan kejelekannya sendiri, maka hatinya akan buta, badannya akan merasa letih, dan akan sulit baginya meninggalkan kejelekan dirinya.”


Semoga kita senantiasa dimudahkan oleh Allah dalam berakhlak karimah dan menjauhi sifat-sifat buruk dan sikap  yang merugikan diri kita sendiri. Amiin.

Artikel Muslim.Or.Id

Silahkan disebar kiriman ini, semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyyah. Jazakumulloh khair